Sale!

Buku Shahih Hadits Qudsi

Rp 30,000 Rp 24,000

SKU: BK-377 Categories: ,

Description

As-Sunnah yang dimaksud dalam buku kita kali ini adalah as-Sunnah pada umumnya sebagaimana yang didefinisikan oleh Ahlul Hadits dan bukan sunnah sebagaimana yang didefinisikan oleh ulama fikih yaitu yang bukan wajib. As-Sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam, baik berupa ucapan (sabda), sikap, perbuatan, tindakan, keputusan, restu beliau terhadap tindakan dan perbuatan para sahabat, serta sifat-sifat fisik dan akhlak beliau. Karena itu as-Sunnah itu adalah Islam itu sendiri.

Maka sunnah-sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam ada yang wajib, ada yang mustahab (sunnah), bahkan ada yang haram diikuti, seperti berpoligami lebih dari empat orang istri.

Kita kaum Muslimin umumnya dan Ahlus Sunnah khususnya tentu berbangga melihat akhir-akhir ini semangat kaum muslimin yang ingin kembali kepada as-Sunnah semakin semarak dan meluas. Dan demi ikut memenuhi kebutuhan kaum muslimin tanah air dalam rangka ikut mengantarkan kaum Anda kembali kepada Islam sebagaimana yang digariskan Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam, kami menerbitkan buku ini yang fokus membahas pembukuan as-Sunnah atau hadits sejak Nabi Shollallohu alaihi wasallam masih hidup hingga masa yang jauh.

Karena itu buku ini menjadi suatu yang sangat penting agar kita lebih dekat dan lebih mengenal sunnah-sunnah nabi kita Muhammad Shollallohu alaihi wasallam.

ISI BUKU SECARA UMUM

Bab (1) mengetengahkan judul: Kedudukan as-Sunnah dalam Islam dan Perhatian Ulama Salaf Terhadapnya.

Pada pasal pertama dari bab (1), buku kita ini meletakkan satu sub penting yang dipegang oleh Ahlus Sunnah umumnya dan Ulama hadits khususnya dengan judul: Al-Qur`an dan as-Sunnah Memiliki Kedudukan Sama Sebagai Dasar Syariat. Ini tentu terlepas dari keutamaan al-Qur`an yang lebih tinggi dari pada as-Sunnah; karena al-Qur`an berasal dari Allah secara lafzhi dan maknawi. Tetapi sekalipun demikian, as-Sunnah juga wahyu sebagaimana al-Qur`an, sehingga as-Sunnah sama dengan al-Qur`an sebagai dasar Syariat. Nabi Shollallohu alaihi wasallam bersabda,

أَلاَ إِنِّيْ أُوتِيْتُ الْكِتَابَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ. أَلاَ يُوْشِكُ رَجُلٌ شَبْعَانُ عَلَى أَرِيكَتِهِ يَقُولُ: عَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ؛ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَلاَلٍ فَأَحِلُّوْهُ، وَمَا وَجَدْتُمْ فِيْهِ مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوْهُ. أَلا وَإِنَّ مَا حَرَّمَ رَسُوْلُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَمَا حَرَّمَ اللّهُ.

“Ketahuilah, sesungguhnya aku didatangkan (diturunkan) al-Qur`an dan yang semisal dengannya bersamanya. Ketahuilah, hampir-hampir (saja tiba zamannya) seseorang yang kenyang (karena bergelimang harta benda) sambil bertelekan di dipannya berkata, ‘Berpeganglah kalian kepada al-Qur`an ini; apa yang kalian dapatkan di dalamnya dari yang halal, maka halalkanlah ia, dan apa yang kalian dapatkan dari yang haram, maka haramkanlah ia.’ Ketahuilah, sesungguhnya apa yang diharamkan Rasulullah Shollallohu alaihi wasallam adalah sama sebagaimana apa yang diharamkan oleh Allah.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud, no. 4604, dan dishahihkan oleh al-Albani).

Penulis mengukuhkan masalah ini dengan dalil-dalil yang banyak dari al-Qur`an dan as-Sunnah, sehingga menjadi jelas dan qath’i, serta tak terbantahkan. Dalil-dalil tersebut kemudian diperkuat lagi oleh banyak perkataan as-Salaf ash-Shalih yang menunjukkan bahwa mereka telah sepakat bahwa as-Sunnah adalah sama kedudukannya dalam hal sebagai dasar Syariat Islam. Ayyub as-Sikhtiyani berkata, “Apabila Anda menyebutkan suatu hadits Nabi Shollallohu alaihi wasallam kepada seseorang, lalu orang itu berkata, ‘Jauhkanlah kami dari hadits itu dan sampaikan saja al-Qur`an kepada kami’, maka ketahuilah bahwa orang tersebut adalah orang yang sesat dan menyesatkan.” (Disebutkan dalam Ma’rifat Ulum al-Hadits, milik Imam al-Hakim, hal. 65).

Imam al-Auza’i, Imam Makhul dan Imam Yahya bin Abi Katsir sepakat mengatakan, “Al-Qur`an lebih membutuhkan as-Sunnah daripada as-Sunnah kepada al-Qur`an; karena as-Sunnah adalah penjelas bagi al-Qur`an sedangkan al-Qur`an bukan penjelas bagi as-Sunnah.” (Diriwayatkan oleh ad-Darimi, no. 593).

Pada pasal kedua, buku kita ini mengulas bagaimana hebat dan seriusnya perhatian ulama Salaf terhadap as-Sunnah.

Pertama: Di zaman para sahabat

Para sahabat menimba ilmu langsung dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam.
– Di antara para sahabat ada yang senantiasa menyertai Nabi Shollallohu alaihi wasallam dalam majlis dan momen-momen penting, sehingga langsung mendengar sabda dan melihat sikap, tindakan dan keputusan-keputusan beliau Shollallohu alaihi wasallam. Termasuk dalam kelompok ini adalah Khulafa` ar-Rasyidin yang empat dan sejumlah sahabat besar.
– Di antara mereka adalah para istri Nabi Shollallohu alaihi wasallam yang memiliki cukup banyak waktu di mana hanya mereka yang melihat segala gerak gerik dan diamnya Nabi Shollallohu alaihi wasallam di dalam rumah dan di tengah keluarga. Mereka inilah yang banyak meriwayatkan sunnah-sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam dalam kaitan hubungan antara suami istri dan interaksi keluarga umumnya.
– Di antara para sahabat ada banyak orang yang tinggal di masjid, seperti Abu Hurairah Rodhiyallohu anhu, sehingga semua sabda, sikap, tindakan, dan keputusan-keputusan Nabi Shollallohu alaihi wasallam terekam jelas oleh mereka; karena hampir dapat dipastikan bahwa kebanyakan waktu hidup Nabi Shollallohu alaihi wasallam dihabiskan di masjid, untuk ibadah, menangani urusan kaum muslimin dan keluarga besar beliau; karena rumah beliau yang berdampingan dengan masjid.
– Banyak juga para sahabat yang diutus Nabi Shollallohu alaihi wasallam ke berbagai kabilah dan pelosok untuk mengajarkan Islam.
– Kabilah-kabilah juga mengirim utusan untuk mengambil ilmu dan Syariat dari Nabi Shollallohu alaihi wasallam.
– Begitu juga perorangan yang sengaja datang kepada Nabi Shollallohu alaihi wasallam untuk menerima ajaran Islam secara langsung.
– Yang tidak kalah penting, banyak para sahabat yang bertanya kepada sahabat-sahabat lain yang langsung menghadiri berbagai peristiwa yang dihadiri Nabi Shollallohu alaihi wasallam, untuk mengambil sabda, tindakan, dan contoh yang diajarkan Nabi Shollallohu alaihi wasallam.

Para sahabat ini kelak, setelah Nabi Shollallohu alaihi wasallam wafat, bertebaran di berbagai negeri, seiring dengan penaklukan berbagai wilayah, sehingga menjadi guru-guru utama bagi para tabi’in yang mengikuti dan mengambil ilmu dari mereka.

Sejarah, kisah, dan berbagai hal yang berkaitan dengan perhatian besar para sahabat terhadap pencatatan, penyebaran, dan pengajaran sunnah Nabi Shollallohu alaihi wasallam, dapat Anda kaji di sini.

Buku ini memuat tema-tema penting yang bermuara dari Firman-firman Allah yang tercantum dalam wahyu kedua setelah al-Qur’an : Cara pencatatan kebaikan dan keburukan, Neraka bagi orang yang rusak hatinya, Dikeluarkannya ahli Tauhid dari neraka, Tanda cinta Allah kepada hamba-Nya, Dosa orang yang memusuhi para kekasih ALlah, Surga dipagari dengan hal-hal yang tidak disukai dan Neraka dipagari dengan hal-hal yang menyenangkan, Ahli surga yang terendah dan tertinggi, Ahli surga yang terakhir masuk surga, Kaum mukminin melihat Tuhan mereka di akhirat, Yang pertama kali diciptakan Allah, Larangan membunuh semut, Tanda-tanda hari kiamat, dan masih ada tema-tema penting lainnya.

Additional information

Weight 0.3 kg
Dimensions 20.5 × 14.5 cm
Penerbit

Darul Haq

Penulis

Syaikh Musthafa al-Adawi

Kode Buku

BK-377

Cover

Soft Cover

Halaman

xiv + 178 Halaman

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Buku Shahih Hadits Qudsi”

Your email address will not be published. Required fields are marked *