Sale!

Buku Shahih Ibnu Khuzaimah Full Set

Rp 804,000 Rp 603,000

SKU: BK-446 Categories: ,

Description

Menghukumi suatu hadits itu shahih, hasan, atau dha’if, harus didasarkan pada beberapa hal, diantaranya adaalah (tabiat yang mendorong seseorang untuk senantiasa bertakwa, dan berakhlak mulia dan menjauhi maksiat serta bid’ah) dan dhabth (keakuratan hapalan) periwayat, atau tuduhan terhadap : “adaalah” dan “dhabth” mereka.
Mengetahui segala sesuatu berkenaan dengan salah seorang periwayat hadis bukan hal yang mudah, sebagaimana pendapat para ulama tentang seorang periwayat juga berbeda-beda, ada yang berlebihan, ada yang sedang-sedang saja, dan ada yang meremehkan. Perbedaan penilaian terhadap seorang periwayat akan mempengaruhi perbedaan dalam menghukumi suatu hadits, apakal shahih, hasan, dha’if, atau maudhu ‘.
Allah Ta’ala  berfirman,yang artinya:
“orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (Qs. Al Hujuraat [49]: 6)
Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam-  bersabda,
“Semoga Allah membaguskan akhlak dan mengangkat derajat orang yang mendengar sesuatu dari kami (yakni : hadits)  lalu dia menyampaikannya seperti yang dia dengar, Berapa banyak orang yang menyampaikan lebih paham dari yang mendengar.” (HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan Ibnu Hibban)
Oleh karena itu, para sahabat -Rodliallohu Anhum-  sangat hati-hati dan teliti dalam masalah periwayatan, baik ketika mengambil dan menyampaikannya, sehingga muncullah kaidah, “Sesungguhnya hadits-hadits ini adalah agama, maka perhatikanlah dari siapa kalian mengambilnya.” Dengan demikian muncullah ilmu Al Jarh wa At-Ta’dil. Para ulama memberikan perhatian yang sangat besar dalam masalah ini. Mereka mengerahkan segala upaya untuk mempelajari kondisi para periwayat yang menukil hadits Nabi -Sholallahu Alaihi Wassalam- .
Imam Al Iraqi -rahimahulloh-  berkata dalam Fath Al Mughits (Fath Al Mughits (3/314),“Mintalah bantuan dengan ilmu Jarh wa Ta ‘dil, karena ia merupakan jalan untuk menjelaskan Antara yang sehat (shahih) dengan yang sakit (dha’if) dan berhati- hatilah, mempunyai tujuan (tertentu), karena jarh sangat berbahaya.”

Pembukuan Sunnah
Ketika agama Islam telah tersebar ke penjuru negeri, bid’ah . merajalela, para sahabat -Rodliallohu Anhum-  telah berpencar ke berbagai wilayah, banyak  di   antara  mereka  telah  meninggal  dunia,   serta minimnya   mereka   yang   hapal   hadits,   maka   perlu   dilakukan bukuan dan penulisan hadits Rasulullah -Sholallahu Alaihi Wassalam- . Inilah asalnya, karena yang pandai dan cerdas bisa lupa, sedangkan tulisan dapat jaganya.
Ketika Umar bin Abdul Aziz -rahimahulloh- menjabat sebagai khalifah pada permulaan  tahun   100   H,   dia  menulis   kepada  Abu  Bakar  bin Muhammad bin Amr bin Hazm, Gubernur Madinah, “Lihatlah hadits Rosululloh dan tulislah, karena aku takut ilmu akan hilang dan para ulama banyak yang meninggal dunia.”
Dia -rahimahulloh-  berwasiat agar riwayat yang ada pada Amrah binti Abdurrahman Al Anshariyyah (W. 98 H) dan Qasim bin Abu Bakar (W. 120 H) dituliskan untuknya. Dia juga menginstruksikan kepada para gubenurnya di berbagai kota penting di negeri-negeri Islam agar mengumpulkan hadits.
Di antara orang yang dikirimi surat adalah Muhammad bin bin Ubaidillah bin Abdullah bin Syihab Az-Zuhri Al Madani, seorang Imam terkenal dan ulama besar wilayah Hijaz dan Syam (124 H).
Setelah itu pembukuan Sunnah pada generasi setelah Az-Zuhri berkembang pesat. Orang yang pertama kali menyusunnya adalah Ibnu Juraij (W. 150 H), Ibnu Ishaq (W. 151 H), atau Malik di Madinah (W. 179 H), Ar-Rabi bin Shubaih (W. 160 H), atau Sa’id bin Arubah (W. 156 H), atau Hammad bin Salamah di Bashrah (W. 176 H), Husyaim di Wasith (W. 188 H), Ma’mar di Yaman (W. 153 H), Jarir bin Abdul Hamid di Rayy (W. 188 H), dan Ibnu Al Mubarak di Khurasan (W. 181 H) –rahimakumulloh– .
Mereka semua hidup pada abad 2 H. Pembukuan hadits yang mereka lakukan bercampur dengan perkataan para sahabat dan fatwa tabiin.
Di antara kitab-kitab paling terkenal yang ditulis pada masa ini adalah: Muwaththa Malik (W. 179 H), Musnad Al Imam Asy-Syafi’i (W. 204 H), dan Mukhtalaf Al Hadits karya Imam Syafi’i, Musnad Al Imam Ahmad, Al Jami’ karya Abdurrazzaq, Mushannaf  Syu ‘bah bin Al Hajjaj (W. 160 H), Mushannaf Sufyan bin Uyainah (198), Mushannaf Al-Laits bin Sa’ad (175 H), serta beberapa karya ulama ahli hadits yang semasa dengan mereka, seperti Al Auza’i dan Al Humaidi (219 H) [ lihat : tarikh Funun Al Hadits 33,34)
Dunia Ilmiyah dalam ilmu hadits dikenal beberapa buku induk Hadits yang hanya memuat hadits-hadits berderajat shahih. Diantara  dari beberapa buku induk hadits Shahih  tersebut adalah : Shahih Bukhori , Shahih Muslim, Shahih Ibnu Khuzaimah, dan Shahih Ibnu Hibban, Al Mustadrak Al Hakim .Syarat yang para penulis kitab Induk hadits tersebut adalah meriwayatkan hadits shahih, dengan perbedaan tingkat diantara mereka dalam komitmen terhadap hadits shahih yang murni.
Inilah edisi terjemahan kitab Shahih Ibnu Khuzaimah, karya Imam Abu Bakar Muhammad bin Ishaq bin  Khuzaimah bin Mughiroh As Sulami An Naisaburi -rahimahullah- ( w 311 H). Sebuah kitab Induk hadits dari beberapa kitab hadits yang penyusunnya menyatakan komitmen hanya menuliskan hadits-hadits shahih .
Syaikh Al Muhadits Ahmad  Syakir -rahimahullah-  berkata ” Shahih Ibnu Khuzaimah karya Imam Ibnu Khuzaimah, Shahih ‘ala Al  Taqasim wa Al Anwa’ ( Shahih Ibnu Hibban), karya Imam Ibnu Hibban , dan Al Mustadrak ‘ala Ash Shahihain karya Imam Al Hakim -rahimakumullah-Tiga buku ini adalah buku-buku terpenting yang disusun berdasarkan hadits shahih murni setelah Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim.”
Beliau menambahkan,” Para ulama dan pengkritik bidang ini telah mengurutkan tiga buku dimana para penyusunnya berkomitmen hanya meriwayatkan hadits shahih. maksudnya adalah hadits shahih murni setelah dua buku Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.Sehingga urutan tersebut adalah Shahih Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Hibban dan Al Mustadrak. pengurutan ini berdasarkan pada penilaian satu dengan lainnya dalam komitmen terhadap riwayat shahih murni. Meskipun kebetulan ternyata bertepatan dengan urutan zaman kemunculan mereka.( Imam Ibnu Khuzaimah adalah guru Imam Ibnu Hibban, sedangkan Imam Ibnu Hibban adalah guru dari Imam Al Hakim -red)”
Imam Ibnu Shalah -rahimahullah- ketika menjelaskan buku-buku yang dapat dimabil darinya pelajaran tambahan tentang hadits shahih bagi pelajar ilmu hadits selain dari Shahih Al Bukhori dan Shahih Muslim, beliau berkata,”Cukup hanya melihat keberadaan hadits tersebut ada dalam buku-buku yang penulisnya mensyaratkan hadits shahih yang disusunya, seperti Shhaih Ibnu Khuzaimah…”[Lihat : Mukadimah Ibnu Shalah] Dalam Kitab AlFiyah fii Al Musthalahah, Al hafidz Al Iraqi -rahimahullah- berkata,” hadits shahih juga dapat diambil dari buku-buku yang khusus menghimpun hadits-hadits shahih saja seperti Shahih Abu Bakar Muhammad bin Ishaq Al Khuzaimah..”
As Suyuthi -rahimahullah- berkata ” Peringkat buku Shahih Ibnu Khuzaimah lebih tinggi dibanding Shahih Ibnu Hibban meningat Ibnu Khuzaimah lebih teliti, hingga ia bersikap tawaquf ( tidak mengambil keputusan) sehubungan dengan ke-shahih-an hadits hanya karena pembicaraan sepele dalam sanad.” (lihat : Taqrib Ar Rawi).

Additional information

Weight 6 kg
Dimensions 24 × 16 cm
Penerbit

Pustaka Azzam

Penulis

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Kode Buku

BK-446

Cover

Hard Cover

Halaman

Jilid 1: 912 Halaman
Jilid 2: 844 Halaman
Jilid 3: 844 Halaman
Jilid 4: 952 Halaman

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “Buku Shahih Ibnu Khuzaimah Full Set”

Your email address will not be published. Required fields are marked *